Hay…jumpa
lagi nih! Untuk postingan kali ini dan seterusnya nanti, akan berbeda dengan
postingan sebelum-sebelumnya. Mudah-mudahan akan lebih baik lagi dan bermanfaat
untuk kita semua.
Nama
saya masih Jolan, saya adalah anak pinggiran, pinggiran sawah. Sorry! Maksudnya pinggir laut. Iya,
rumah saya berhadapan langsung dengan laut. Kampung yang paling dekat dengan
bencana Tsunami, jujur saja. Jadi, kalau desa saya betul-betul terjadi bencana
tersebut. Mungkin saya yang akan mati terlebih dulu. Sungguh malang nasib saya,
tapi kalian tidak usah perihatin. Sebab menunjukkan rasa sedih dan ibah tanpa
ada bantuan itu sama saja. Dan untuk itu, saya akan menuntut pemerintah untuk
memberikan penghargaan. Sebuah medali
karena saya telah berhasil memecahkan rekor dalam kategori, ‘korban pertama
dalam bencana Tsunami.’ Sebab kita tahu mereka suka menabur penghargaan dan
bangga akan itu. Untuk kategori saya ini memang tidak mudah, karena resikonya
mempetaruhkan nyawa yang juga tidak punya pilihan lain.
Mau diapa? lari juga
percuma. pasti akan ikut tenggelam. Kalau saja akses jalan ke desa pinggiran
tidak begitu memperihatinkan kayak Sinder bolong, sana-sini yang ada jalan
berlobang kerikil, mungkin akan lain ceirtanya. Jadi, jangan sesalkan bencana
banyak merengguk korban jiwa, tapi pikirkan bagaimana mereka bisa terhindar
dari bencana. Apa masih kurang jelas! kisah nabi Yusuf AS menyusun strategi
untuk menghindari bencana masa paceklik pada masanya. Ingatlah para pemegang
tahta, kemiskinan yang banyak terjadi di desa pinggiran atau kampung nelayang
juga sebuah bencana, begitupun dengan daerah-daerah lainnya.
Pemerintah digaji oleh siapa? kalau
bukan dari rakyat. Nelayan juga masyarakat, dan pemerintah adalah pelayan
masyarakat. Itu berarti, pemerintah pelayan para Nelayan. Ohh…sungguh bodohnya
nelayan ini banyak diperbodoh oleh pelayannya sendiri. Sangking bodohnya, anak
penerus yang seharusnya mendapat hak belajar, menuntut ilmu pendidikan tidaklah
terlalu penting dan lebih memetingkan anaknya ikut menangkap ikan di laut.
Generasi yang terus-menerus menjadi bodoh. Ini karena para nelayan tidak
terlalu mengenal pendidikan. Siapa lagi yang akan mengenalkan kepada mereka?
kalau bukan kalian yang bertanggung jawab memegang wewenang. Yah, kamu! para
petinggi Indonesia.
Dunia ini memang berputar tapi tidak
terbalik. Tidak tahu lagi! siapa yang membantu dan siapa yang telah dibantu.
Sepertinya, ucapan terima kasih sudah tak lagi berlaku untuk mereka. Engkau
para penguasa yang berdiri kokoh disana, berkat suara rakyat kecil yang
memercayaimu memegang amanat hingga dipandang hormat. Mana Nelayan dan mana pelayan, keanehan
nelayan yang terus mengalir, kala majikan membayar budaknya untuk memerintahkan
majikannya sendiri. Suatu system yang memiluhkan. Kalian bukan nelayan para pelayan,
akan tetapi nelayan yang akan dilayani oleh mereka yang dipercaya memegang
amanat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar