Minggu, 03 Januari 2016

Nelayan para pelayan



Hay…jumpa lagi nih! Untuk postingan kali ini dan seterusnya nanti, akan berbeda dengan postingan sebelum-sebelumnya. Mudah-mudahan akan lebih baik lagi dan bermanfaat untuk kita semua.

Nama saya masih Jolan, saya adalah anak pinggiran, pinggiran sawah. Sorry! Maksudnya pinggir laut. Iya, rumah saya berhadapan langsung dengan laut. Kampung yang paling dekat dengan bencana Tsunami, jujur saja. Jadi, kalau desa saya betul-betul terjadi bencana tersebut. Mungkin saya yang akan mati terlebih dulu. Sungguh malang nasib saya, tapi kalian tidak usah perihatin. Sebab menunjukkan rasa sedih dan ibah tanpa ada bantuan itu sama saja. Dan untuk itu, saya akan menuntut pemerintah untuk memberikan  penghargaan. Sebuah medali karena saya telah berhasil memecahkan rekor dalam kategori, ‘korban pertama dalam bencana Tsunami.’ Sebab kita tahu mereka suka menabur penghargaan dan bangga akan itu. Untuk kategori saya ini memang tidak mudah, karena resikonya mempetaruhkan nyawa yang juga tidak punya pilihan lain.

 Mau diapa? lari juga percuma. pasti akan ikut tenggelam. Kalau saja akses jalan ke desa pinggiran tidak begitu memperihatinkan kayak Sinder bolong, sana-sini yang ada jalan berlobang kerikil, mungkin akan lain ceirtanya. Jadi, jangan sesalkan bencana banyak merengguk korban jiwa, tapi pikirkan bagaimana mereka bisa terhindar dari bencana. Apa masih kurang jelas! kisah nabi Yusuf AS menyusun strategi untuk menghindari bencana masa paceklik pada masanya. Ingatlah para pemegang tahta, kemiskinan yang banyak terjadi di desa pinggiran atau kampung nelayang juga sebuah bencana, begitupun dengan daerah-daerah lainnya.

            Pemerintah digaji oleh siapa? kalau bukan dari rakyat. Nelayan juga masyarakat, dan pemerintah adalah pelayan masyarakat. Itu berarti, pemerintah pelayan para Nelayan. Ohh…sungguh bodohnya nelayan ini banyak diperbodoh oleh pelayannya sendiri. Sangking bodohnya, anak penerus yang seharusnya mendapat hak belajar, menuntut ilmu pendidikan tidaklah terlalu penting dan lebih memetingkan anaknya ikut menangkap ikan di laut. Generasi yang terus-menerus menjadi bodoh. Ini karena para nelayan tidak terlalu mengenal pendidikan. Siapa lagi yang akan mengenalkan kepada mereka? kalau bukan kalian yang bertanggung jawab memegang wewenang. Yah, kamu! para petinggi Indonesia.

            Dunia ini memang berputar tapi tidak terbalik. Tidak tahu lagi! siapa yang membantu dan siapa yang telah dibantu. Sepertinya, ucapan terima kasih sudah tak lagi berlaku untuk mereka. Engkau para penguasa yang berdiri kokoh disana, berkat suara rakyat kecil yang memercayaimu memegang amanat hingga dipandang hormat.  Mana Nelayan dan mana pelayan, keanehan nelayan yang terus mengalir, kala majikan membayar budaknya untuk memerintahkan majikannya sendiri. Suatu system yang memiluhkan. Kalian bukan nelayan para pelayan, akan tetapi nelayan yang akan dilayani oleh mereka yang dipercaya memegang amanat.