Impian Vocalis kaleng
Jangankan hanya untuk rutin bangun pagi. Mengolah suara vocal lebih merdu, dan tidak kehabisan napas pada saat bernyanyi. Menahan batuk, juga sangat menyiksa. Bukan main, keseringan batuk mempengaruhi tenggorokan jadi serek. Disamping itu, Jolan juga sering mengunyah murica. Bumbu dapur yang bijinya sebesar biji buah pepaya, tiga kali dalam sehari malah. Sesuai saran turun-temurun nenek moyang dari keluarga Jolan. Konon katanya, dengan mengunyah murica, bisa memperbaharui suara lebih merdu dan napas yang lebih panjang. Namun yang pastinya juga, bau mulut yang kurang sedap. Masih mending sih! dibandingkan bau mulut Naga kejepit tembok.
Mengunyah murica sudah, makanan yang berbaur minyak pun Jolan hindari. Bahkan sampai minum air mineral melebihi dari apa yang dianjurkan ia lakoni. Tapi kok..! suara Jolan masih kayak kambing sedang bersalin. “Emmmbeeeeheheee..!!” atau seperti Bebek yang ngocah-ngoceh terampas telurnya. Kwkwkw...!!
Dalam mengejar impian, kadang seseorang sering terbuai dalam khayal. Menikmati alur cerita indah dalam bayangan, sehingga orang tersebut tidak sadar akan berapa banyak waktu yang mereka tumpahkan secara percuma. Setelah itu, timbullah harapan tingkat tinggi. Berharap keajaiban akan menyambutnya suatu saat. Sampai kapan, sampainya Dajjal datang memberitahu bahwa “Sorry yehh…!! anda belum beruntung, dunia tak lagi seindah masa Romeo and juliet.” Jolan tak ingin menanti waktu yang tepat, karena ketepatan diri ada sejak ia memiliki tekad yang sangat kuat.
Jolan juga punya sahabat yang selalu menemani dalam kesehariannya. Namanya Asep, ia biasa dipanggil Acep untuk lebih akrabnya. Acep tidak seperti kebanyakan anak muda jaman sekarang yang berpenampilan modis. Ia lebih cenderung menggunakan baju kemeja yang bermotif apa saja, dengan celana Jeanz biru yang tak bosan dipakainya, (habis jemur langsung pake). Rambut belah samping, tersisir rapi dengan kacamata besar menghiasi wajahnya. Jolan sesekali memanggilnya Mr.Bean, dengan penampilannya seperti itu. Tetapi Acep tidaklah berperilaku Mr.Bean yang bertingkah bodoh seperti kita ketahui. Melainkan, Acep selalu mengacungkan dada saat berbicara dan mengendalikan dirinya sok paling dewasa. Hobbinya yang membaca membuat dirinya yakin bahwa suatu saat nanti orang-orang akan membaca karyanya sendiri, itu impiannya dalam rangka kegagalannya berkali-kali. Hidupnya yang penuh motivasi. Satu dari kekurangan sahabatnya ini ialah komentarnya yang selalu polos, mengatakan apa adanya. Bagian kekurangannya ini Jolan kurang suka.
“Jolan..!!” panggilnya dengan serius, mendengar ia latihan vocal. “suara lu emang bagus.” Ujarnya lagi, memasang wajah penuh keyakinan. Jolan pun menoleh tak sabar mendengar kalimat sanjungan selanjutnya yang ia tuturkan. Seperti yang Jolan kenal, sahabatnya ini tidak asal menyanjung orang. Memerlukan waktu berhari-hari bertapah dalam Gua untuk mengeluarkan kalimat sanjungan pelitnya.
“Pernah gak lu denger suara kaleng yang merana dipinggir jalan? yang ditendang membentur tembok, tercompang-camping. Preeenng…!! Nah... seperti itu suara loh sobatku.” jelasnya sembari tetawa.
“Sialan..! lu mau nyanjung, atau emang sengaja mau ngejek sih.” Jolan kesal tak keruan.
Hmmm...Jolan! percaya deh..orang yang suka mengitimidasi impian terbesarmu ialah orang yang khawatir akan kesuksesanmu.
Semangat Jolan...!!!


